Rabu, 11 Juni 2014

APPLICATION LETTER


Dear.,
Mr / Mrs Personnel
PT. Putra Satria Muda Mudi 
 Jl. Mawar Hitam # 45
Central Jakarta

Dear Sirs,
In accordance with the information for jobs from PT. Putra Satria Muda Mudi that I get from the daily Independent on 12th June 2013. I intend to apply for a job and join the company that Mr / Mrs lead. As part of the work that I mean is the Marketing section of code (MG) at PT. Putra Satria Muda Mudi.

Here is my short data
Name                        : Anisa Maryati
Place / date. Birth     : Jakarta, 28 March 1992
Last Education          : S1 Management
Address                     : Rawalumbu Street
Phone (HP)                : 085 7804 14717
Status                         : Single

And this time I am in a healthy state and can speak English fluently. Honesty is always my priority and my educational background is very satisfying, and I also can implement applications for the position of administrative staff in accordance with my educational background as management. I can use MS office packages such as MS Excel, MS Word, and MS power point.

For your consideration, I enclose:
1. CVs
2. Photocopy of diploma S1
3. Photocopy of transcript
4. Photocopy of certificate courses and training
5. Pas latest photo

An interview of Mr / Ms Personnel so I hope that I can explain in more detail about the potential and my ability to companies that Mr / Mrs lead.

Similarly, the cover letter, I thank you for the attention of Mr / Ms personnel.




Yours sincerely,
Anisa Maryati

Selasa, 08 April 2014

Tugas Sofkill 2

Tugas Sofkill 2 -- Make a Block Style Inquiry Letter


Name   : Anisa Maryati                                           Class    : 4EA13          
NPM   :  10210874                                                Date    : Monday 7th  April 2014



PT. MULTI JAYA ABADI
132 Jln. Maphilindo Raya
Surabaya 2860

 


Your ref: AM/LG/2B                                                                                 13th March, 2014
Our ref: SJ/RS/08F

 
  Miss. Anisa Maryati
Purchase Manager
Insan Prima National Trading Company
Jln. K.H.Noor Ali No.30
Bekasi 10240


Dear Miss. Anisa,

Thank you for your letter of 13th March, enquiring about our complete range of Montana Ladies’ Shoes

We have pleasure in enclosing our latest catalogue, price - list, and terms of payment
together with samples of our promotional gifts.

We hope you will find our price - list and terms of payment satisfactory and look  forward to your trial order.


Yours sincerely,




Stephen Juhara
Marketing Manager


Enc. 2

Senin, 24 Maret 2014

Full Block Style

Nama : Anisa Maryati
NPM : 10210874
Kelas : 4ea13
Tugas Sofkill 1
Full Block Style

INSAN PRIMA NATIONAL TRADING COMPANY
JLN. K.H. Noor Ali No. 30
Bekasi 10240




Ref      : HR/ LG/ 12B

13th March 2014


PT. Multi Jaya Abadi
132 Jln. Maphilindo Raya
Surabaya 2860


Dear Sirs,
We visited your stand at the Indonesia Trade Fair IN kemayoran sometime ago. We were interested very much in your Montana Ladies’ Shoes displayed at the Fair.

We should be pleased if you would send us your colour catalogue of your complete range of the Ladies’ Shoes, price list and term of payment.

If they are competitive and the term are satisfactory, we may place our regular order in the future.


Your sincerely,


Anisa Maryati
Purchase Manager

Selasa, 07 Januari 2014

ETIKA BISNIS 2

Nama : ANISA MARYATI
NPM : 10210874
4ea13

Kasus Hak Pekerja :
Lima pekerja di salah satu perusahaan transportasi di Pasuruan diberhentikan/ di-PHK karena bergabung dengan Serikat Pekerja. Perusahaan PO.X memiliki beberapa divisi, diantaranya adalah divisi bengkel dan divisi kru bis. Serikat Pekerja divisi bengkel telah berhasil menuntut hak mereka yaitu mengenai upah, upah yang diberikan sebelumnya Rp. 25.000/hari padahal Upah Minimum Kabupaten sebesar Rp. 40.000/hari dan biaya Jamsostek yang 100% dibebankan kepada pekerja. Sekarang divisi bengkel telah menikmati upah yang sesuai dengan UMK dan memiliki Jamsostek yang dibayarkan oleh perusahaan.
Mengikuti kesuksesan divisi bengkel dalam menuntut hak kerja mereka, para pekerja di divisi kru bis pun mulai bergabung dengan Serikat Pekerja. Pekerja divisi kru bis banyak mengalami pelanggaran hak-hak pekerja, diantaranya adalah pembagian upah yang menganut sistem bagi hasil. Perhitungannya sistem bagi hasil tersebut adalah :
Supir : 14% dari pendapatan bersih per hari
Kondektur : 8% dari pendapatan bersih per hari
Kenek : 6% dari pendapatan bersih per hari
Apabila pekerja tidak masuk kerja akan dikenakan denda sebanyak Rp. 500.000/hari kecuali tidak masuk kerja karena sakit. Tunjangan Hari Raya pun tidak pernah diberikan kepada pekerja. Masalah lain adalah mengenai tidak diberikannya fasilitas jamsostek, sehingga apabila terjadi kecelakaan kerja (kecelakaan bus), pekerja harus menanggung sendiri biayanya.
Akan tetapi, perjuangan divisi kru bis lebih berat dibanding divisi bengkel karena perusahaan sudah semakin pintar dalam berkelit. Mereka tidak mempunyai Perjanjian Kerja Bersama (PKB), semua perintah dan peraturan dikemukakan secara lisan sehingga pekerja tidak memiliki bukti tertulis yang bisa dijadikan senjata untuk melawan perusahaan seperti halnya yang dilakukan pekerja di divisi bengkel sebelumnya.
Kasus tersebut telah dilaporkan ke Dinas Tenaga Kerja setempat, diputuskanlah bahwa kelima orang pekerja tersebut akan mendapat pesangon dan kasusnya akan dibawa ke Pengadilan.

ANALISIS
Berdasarkan contoh kasus tersebut di atas, dapat disimpulkan telah terjadi berbagai pelanggaran dalam hak-hak pekerja seperti misalnya (a) hak atas pekerjaan dan upah yang adil seperti pembagian upah yang menganut sistem bagi hasil yang tidak proporsional, adanya pemotongan (denda) sebanyak Rp. 500.000/hari bagi pekerja (divisi kru bis) kecuali tidak masuk kerja karena sakit, THR tidak pernah diberikan kepada pekerja, (b) hak atas perlindungan keamanan dan kesehatan seperti tidak diberikannya fasilitas jamsostek, sehingga apabila terjadi kecelakaan kerja (kecelakaan bus), pekerja harus menanggung sendiri biayanya.(c) hak atas berserikat dan berkumpul, karena ketika para divisi kru bis mulai bergabung dengan serikat pekerja dan mengikuti jejak divisi bengkel untuk menuntut hak kerja mereka, justru mereka dilaporkan ke Dinas Tenaga Kerja setempat dan diputuskanlah bahwa kelima orang yg tergabung dalam serikat pekerja tersebut mendapat pesangon dikarenakan perusahaan semakin pintar dalam berkelit dan semua perintah dan peraturan dikemukan secara lisan sehingga para pekerja tidak memiliki bukti tertulis yang bisa dijadikan senjata untuk melawan perusahaan tersebut.

·          Kasus iklan yang tidak etis:
Pada rapatnya di bulan November 2011, Badan Pengawas Periklanan (BPP) P3I telah menemukan satu kasus iklan Traditional Chinese Medication (TCM) yaitu iklan Cang Jiang Clinic. BPP P3I saat itu menilai bahwa iklan tersebut berpotensi melanggar Etika Pariwara Indonesia, khususnya terkait dengan:  Bab III.A. No.2.10.3. (tentang Klinik, Poliklinik dan Rumah Sakit) yang berbunyi: “Klinik, poliklinik, atau rumah sakit tidak boleh mengiklankan promosi penjualan dalam bentuk apa pun” dan Bab III.A. No.1.17.2. (tentang Kesaksian Konsumen) yang berbunyi: “Kesaksian konsumen harus merupakan kejadian yang benar-benar dialami, tanpa maksud untuk melebih-lebihkannya”.

Pada iklan Cang Jiang Clinic tersebut ditampilkan pemberian diskon (30%) bagi pembelian obat serta ditampilkan pula beberapa kesaksian konsumen mereka yang sangat tendensius melebih-lebihkan kemampuan klinik tersebut serta bersifat sangat provokatif yang cenderung menjatuhkan kredibilitas pengobatan konvensional.

Untuk memastikan adanya pelanggaran tersebut, maka BPP P3I telah mengirimkan surat kepada Persatuan Rumah-Sakit Indonesia (PERSI) dan mendapatkan jawaban bahwa PERSI sependapat dengan BPP P3I sehingga pada bulan Maret 2012, BPP P3I telah mengirimkan surat himbauan kepada KPI untuk menghentikan penayangan iklan tersebut.

Masalah Cang Jiang Clinic ini belum tuntas, ketika lalu muncul iklan Tong Fang Clinic yang jauh lebih gencar (dan ditayangkan di lebih banyak stasiun televisi dan dengan frekuensi yang jauh lebih sering).  Isi pesan iklannya sangat mirip dengan iklan Cang Jiang Clinic. BPP P3I kemudian melayangkan surat himbauan yang senada kepada KPI pada bulan Juli 2012.

Sepanjang bulan Juli 2012, iklan Tong Fang Clinic ternyata sangat ramai menjadi pergunjingan masyarakat umum; baik melalui media-media sosial maupun pengiriman SMS dan Blackberry Messenger. Bahkan, kata kunci “Tong Fang” sempat menjadi topik yang paling sering disebut (‘trending topic’) di twitter, bukan saja di area Indonesia, tapi di seluruh dunia (lintas.me, 6 Agustus 2012).

Dari sudut ilmu komunikasi, bisa saja orang lalu menilai bahwa klinik tersebut telah mendapatkan tingkat ‘awareness’ yang sangat tinggi. Hal tersebut memang tidaklah dapat dibantah. Jutaan kicaun masyarakat tersebar di berbagai jenis media terkait dengan iklan klinik tersebut. Tapi, mari kita coba lihat isi dari beberapa kicauan tersebut (dikutip dari beberapa posting di twitter).

> Dulu muka saya ada jerawat satu, seteleh ke klinik Tong Fang muka saya jd bnyak jerawat.Trimakasih TongFang
> Dulu pacar saya di rebut orang, namun setelah saya ke klinik TongFang sekarang saya jd rebutan pacar orang, terima kasih TongFang
> Dulu saya Raja Dangdut, setelah ke Klinik Tong Fang kini saya jadi Raja Singa. Terima Kasih Tong Fang
> Dulu saya dipanggil anak SINGKONG. Setelah Konsul ke Klinik Tong Fang skrg saya dipanggil anak KINGKONG. TerimaKasih TongFang
> Dulu Kakak PEREMPUAN sy slalu telat ke KAMPUS, setelah 5 kali ke Klinik Tong Fang skarang Kakak sy TELAT 3 bulan, Trims Tong Fang
> Sudah 3thn sy menderita SAKIT kepala sebelah. Setelah sy berobat ke klinik Tong Fang, kini kepala saya TINGGAL sebelah.TerimaKasih TongFang
> Dulu saya bau KAKI, setelah 3X ke Klinik Tong Fang, sekarang klinik mereka BAU kaki saya. Mohon Maaf Tong Fang
MATA sya slalu MERAH krn sring naek mtor, smnjak ke klinik TongFang MOTOR sya HILANG jd mata sya sdh tdk merah lgi.Thx TongFang
> Dlu saya tdk tau tong fang,stelah bnyk BM tong fang, BB saya semakin menjadi sampah

Di twitter juga muncul banyak akun baru yang sekedar bertujuan untuk mengakomodasi lelucon tentang “Tong Fang”. Misalnya: akun @KlinikTongfang dengan 15.218 pengikut dan @KliinikTongFang dengan 61,091 pengikut (data pengikut/’follower’ terhitung tanggal 9 Agustus 2012) serta banyak akun lainnya. Padahal akun-akun itu usianya belum lebih dari 2 bulan.

Apakah kicauan masyarakat tersebut sebenarnya hanya sekedar ‘iseng’ dan semacam jadi ‘lomba kreatifitas’ mereka saja? Saya sangat percaya bahwa bukan itu permasalahannya.

Tidak perlu menjadi seorang pakar komunikasi untuk memahami bahwa dibalik lelucon-lelucon yang dikreasikan oleh berbagai kalangan masyarakat, ada satu pesan penting yang ingin disampaikan oleh masyarakat terhadap iklan Tong Fang Clinic: IKLAN ITU SENDIRI ADALAH SATU LELUCON BESAR!!

Suatu iklan (dari produk apapun juga), pastilah mengandung unsur JANJI dari si pengiklan kepada khalayak yang disasarnya. Sungguh sangat disayangkan bahwa ternyata janji yang ditawarkan oleh iklan Tong Fang Clinic dinilai tidak lebih dari sekedar lelucon! Dan, tidak perlu berpikir terlalu mendalam untuk memahami bahwa dibalik ‘lelucon’ yang ada dalam iklan tersebut, masyarakat menilai ada KEBOHONGAN BESAR.

Dalam konteks ini, tingkat ‘awareness’ yang tinggi dari iklan Tong Fang Clinic sebenarnya malah memberikan dampak yang sangat negatif terhadap citra dari klinik itu sendiri. Cukup mengherankan bahwa pihak klinik Tong Fang tidak segera melakukan koreksi, bahkan terkesan ‘santai-santai’ saja (baca Merdeka.com, 9 Agustus 2012 08:06:00: “Diolok-olok di Twitter, ini jawaban klinik Tong Fang”). Beberapa pemilik akun twitter bahkan sudah ada yang sampai tingkat ‘marah’ karena mereka sangat memahami bahwa olok-olokan tersebut sangat menjatuhkan citra klinik Tong Fang. Dan lebih parahnya, dapat dengan sangat mudah diprediksi, citra ini akan merembet kepada seluruh klinik tradisional Cina (TCM).

Tekanan terhadap kasus di atas tidak saja datang dari masyarakat. Pemerintahpun akhirnya harus turun tangan.. Misalnya: Merdeka.com pada 9 Agustus 2012 06:47:00 mengangkat artikel “Dinas Kesehatan DKI larang iklan Klinik Tong Fang” dan Okezone.com pada 8 Agustus 2012 23:46 mengangkat artikel “DPR Soroti Praktik Klinik Tong Fang”.  

Bila saat ini masyarakat (dan pemerintah) jadi tidak percaya kepada iklan klinik Tong Fang, siapakah yang akan dirugikan? Pertama-tama mungkin memang hanya akan berdampak pada klinik Tong Fang dan TCM lainnya. Tapi, dampak ini bila sampai tidak diatasi dengan segera, akan membuat industri klinik  tradisional Cina tidak dapat berkembang, akibatnya mereka tidak lagi bisa beriklan. Di titik ini, media massa akan merasakan dampaknya pula.

Sangat disayangkan bahwa media-massa (khususnya televisi) mengabaikan himbauan dan teguran yang telah disampaikan oleh KPI untuk menghentikan iklan-iklan TCM yang provokatif tersebut sejak April 2012 (lihat www.kpi.go.id pada menu Imbauan, Peringatan dan Sanksi). Stasiun TV hanya berpikir jangka-pendek mengeruk dana iklan secepat-cepatnya padahal bila iklan tersebut justru akan ‘mematikan’ pengiklannya, maka stasiun TV akan kehilangan pendapatan di masa depannya.

Secara tidak langsung, keprihatinan masyarakat atas kasus ini seharusnya menjadi keprihatinan untuk seluruh kalangan periklanan dan komunikasi pemasaran pada umumnya juga. Kasus ini menambah panjang daftar materi komunikasi (iklan) yang dinilai “bohong” oleh masyarakat umum. Citra materi komunikasi (iklan) tercemar dengan adanya kasus ini.
Kitab Etika Pariwara Indonesia (dapat bebas diunduh di www.p3i-pusat.com/epi) dengan tegas telah mencantumkan 3 asas penting dalam membuat karya iklan; yaitu:

Iklan dan pelaku periklanan harus :
Jujur, benar, dan bertanggungjawab.
Bersaing secara sehat.
Melindungi dan menghargai khalayak, tidak merendahkan agama, budaya, negara, dan golongan, serta  tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku.

Tujuan dari penetapan asas tersebut adalah untuk melindungan industri periklanan agar tetap dapat dipercaya oleh konsumen/masyarakat. Iklan bukanlah ‘barang haram’. Iklan dapat memberikan banyak keuntungan bagi masyarakat bila ia disampaikan dengan isi dan cara yang etis.

Banyak pihak menyatakan bahwa tidaklah mudah membangun citra yang positif dari suatu produk/merek. Butuh tahunan, bahkan puluhan tahun untuk membangun suatu merek agar dapat diterima dengan positif oleh konsumen. Dan sekali citra tersebut terkoyak, akan jauh lebih sukar lagi untuk mengangkatnya kembali. Bahkan, cukup satu kasus sederhana untuk ‘mematikan’ satu merek.

Seluruh komponen yang terkait dengan materi promosi/periklanan sepantasnya mendukung sepenuhnya penegakkan etika periklanan di Indonesia demi menjaga agar industri ini tetap dipercaya oleh masyarakat. Tanggung-jawab penegakkan etika ini bukanlah sekedar berada di tangan produsen/pengiklan dan biro-iklan/promosi mereka saja. Rumah produksi iklan dan media-massa juga berkewajiban mendukungnya. Rumah produksi dan media-massa harus ikut bertanggung-jawab bila mereka membuat dan menayangkan suatu produk iklan/promosi yang tidak etis.

Kasus ini seharusnya menjadi keprihatinan dari seluruh khalayak pemerhati komunikasi pemasaran.  Masyarakat kita yang sangat majemuk sudah semakin pandai menilai etis atau tidaknya suatu pesan pemasaran. Sudah bukan jamannya lagi mempromosikan segala sesuatu sebagai “kecap nomor 1”. Herannya, sampai dengan saat ini, masih ada iklan Tay Shan TCM!!

·          Kasus Etika pasar bebas:
Salah satu kasus yang terjadi antar anggota WTO kasus antara Korea dan Indonesia, dimana Korea menuduh Indonesia melakukan dumping woodfree copy paper ke Korsel sehingga Indonesia mengalami kerugian yang cukup besar. Tuduhan tersebut menyebabkan Pemerintah Korsel mengenakan bea masuk anti dumping (BMAD) sebesar 2,8 persen hingga 8,22 persen terhitung 7 November 2003. dan akibat adanya tuduhan dumping itu ekspor produk itu mengalami kerugian. Ekspor woodfree copy paper Indonesia ke Korsel yang tahun 2002 mencapai 102 juta dolar AS, turun tahun 2003 menjadi 67 juta dolar.
Karenanya, Indonesia harus melakukan yang terbaik untuk menghadapi kasus dumping ini, kasus ini bermual ketika industri kertas Korea mengajukan petisi anti dumping terhadap 16 jenis produk kertas Indonesia antara lain yang tergolong dalam uncoated paper and paperboard used for writing dan printing or other grafic purpose produk kertas Indonesia kepada Korean Trade Commision (KTC) pada tanggal 30 september 2002 dan pada 9 mei 2003, KTC mengenai Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) sementara dengan besaran untuk PT pabrik kertas Tjiwi Kimia Tbk sebesar 51,61%, PT Pindo Deli 11,65%, PT Indah Kiat 0,52%, April Pine dan lainnya sebesar 2,80%. Namun, pada 7 November 2003 KTC menurunkan BM anti dumping terhadap produk kertas Indonesia ke Korsel dengan ketentuan PT Pabrik kertas Tjiwi Kimia Tbk, PT Pindo Deli dan PT Indah Kiat diturunkan sebesar 8,22% dana untuk April Pine dan lainnya 2,80%. Dan Indonesia mengadukan masalah ini ke WTO tanggal 4 Juni 2004 dan meminta diadakan konsultasi bilateral, namun konsultasi yang dilakukan pada 7 Juli 2004 gagal mencapai kesepakatan.
 Karenanya, Indonesia meminta Badan Penyelesaian Sengketa (Dispute Settlement Body/DSB) Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) membentuk Panel dan setelah melalui proses-proses pemeriksaan, maka DSB WTO mengabulkan dan menyetujui gugatan Indonesia terhadap pelanggaran terhadap penentuan agreement on antidumping WTO dalam mengenakan tindakan antidumping terhadap produk kertas Indonesia. Panel DSB menilai Korea telah melakukan kesalahan dalam upaya membuktikan adanya praktek dumping produk kertas dari Indonesia dan bahwa Korea telah melakukan kesalahan dalam menentukan bahwa industri domestik Korea mengalami kerugian akibat praktek dumping dari produk kertas Indonesia.


Kasus Whistle blowing:

Tak dapat dipungkiri dari sosok pencuat ‘cicak-buaya’ inilah berbagai praktek mafia di jajaran yudikatif sedikit banyak terkuak. Sebut saja skandal Century, kasus Gayus sampai ‘benalu’ di institusi kepolisian berawal dari ungkapan kontroversial sang jendral lulusan Akademi Kepolisian 1977 ini.
Namun kegigihannya dalam mengungkap berbagai kasus ternyata berbalik arah, banyak kolega di intitusi internal Polri dan pihak-pihak yang merasa privasinya terganggu dan gerah sehingga berupaya untuk menghentikan sepak terjang orang yang pernah menyandang call sign ‘truno 3′ ini. Sebenarnya kode ini diperuntukkan kepada direktur III Tipikor, sedangkan untuk Kabareskrim Polri kode resminya adalah “TRIBATA 5″.
Dan lebih jauh lagi seolah ada dalang yang ingin menyingkirkannya dalam kiprah dan karirnya di kepolisian.

Mengapa sosok Susno Duadji dianggap sebagai whistle blower ( dikonotasikan sebagai peniup peluit/penguak/pengungkap kasus) bukan Gayus ?
Hal ini bisa dimaklumi karena beliau pernah menduduki jabatan penting dan strategis yang berkaitan dengan penanganan kasus-kasus besar diantaranya sebagai ;
1. Kabareskrim Polri, yang dijabatnya tgl.24 Oktober 20O8 sampai 24 November 2010.
2. Wakil kepala PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan)
3. Kapolda Jawa Barat

Dari dua jabatan pertama yang pernah disandang ini saja kita dengan logika sederhana akan mengatakan bahwa Susno memang pemegang kunci dari berbagai skandal besar yang terjadi di negeri ini. Dia tahu betul kronologi berbagai kasus besar yang bisa jadi menyeret beberapa petinggi, pejabat dan pegawai institusi yang terindikasi korup, terutama kasus Century dan jangan lupa kasus Gayus adalah buah dari nyanyian jendral yang saat ini menjalani proses pengadilan ini. Menurut masyarakat awam, proses penahanan beliau seperti didramatisir dan kental sekali ‘muatan kepentingan’ untuk kelompok/oknum tertentu yang makin mencabik-cabik buramnya hukum di negeri ini.

Contoh kecilnya adalah beliau dituduh melanggar kode etik dan disiplin internal kepolisian serta dikaitkan dengan dugaan penyelewengan dana pilkada Jawa Barat. Jauh amat deviasinya dari akar persoalan yang sebenarnya dan gak nyambung sama sekali.
Pantas saja politisi Gayus Lumbuun yang duduk di komisi III (hukum dan HAM) DPR-RI dalam kesempatan hearing rabu, 26 Januari 2011, melontarkan pernyataan bahwa Susno Duadji bisa dijadikan whistle blower skandal Century. Dengan begitu diharapkan para wakil rakyat yang duduk di komisi III nantinya dapat memperoleh data dan informasi baru dalam mengungkap skandal Century yang diduga ‘bernilai’ Rp.6,762 Trilyun itu. Meskipun sudah dibentuk pansus sampai panwas kasus tersebut terkesan stagnan dan terlindungi ‘tangan-tangan perkasa’ sekaligus masih tabu tersentuh hukum.
Beberapa nama seperti Robert tantular, Heshan Al Warraq dan Ali Rivzi sudah terseret dalam kasus korupsi ’sealiran’ skandal Century ini, tetapi anehnya dalam kasus ini sama sekali belum menyentuh pejabat dari lembaga dan instansi yang jelas terlibat dan harusnya bertanggungjawab.
Sungguh seperti peristiwa ironis dan tragis menimpa sosok yang berani membuka tabir kasus yang diduga melibatkan para petinggi negara itu.

sumber :

Sabtu, 28 Desember 2013

Contoh Penelitian Dalam Riset Pemasaran

Nama : Anisa Maryati
Kelas : 4ea13
NPM : 10210874

Sekilas jika melihat kemasan produk Oreo dan Rodeo, kita tidak bisa membedakan kedua produk tersebut. Karena memiliki cirri kemasan yang sama, yaitu berwarna biru dan bergambar 2 biscuit sandwich coklat hitam dengan krim putih. Oleh karena itu, kelompok kami akan menemui responden yang akan diwawancarai mengenai kedua produk tersebut.
Berdasarkan peninjauan langsung yang dilaksanakan dalam waktu seminggu yaitu pada 13 Oktober – 20 Oktober 2013 terhadap konsumen penikmat Oreo dan Rodeo, ditemui 20 responden dengan cara accidental sampling, yaitu memilih responden dengan ketidaksengajaan yang dipilih secara random pada saat penelitian berlangsung. Wilayah yang kami pilih adalah 35% pengunjung mini market terdekat dan 65% seseorang yang ditemui di LepMA Universitas Gunadarma untuk dilakukan wawancara. Pertanyaan yang diajukan sesuai dimensi yang mendasar, yaitu berdasaran tampilan produk, kualitas, harga, dan ukuran.
  

TABEL PENILAIAN MENGENAI PRODUK
OREO DAN RODEO

NO

NAMA
Produk apa yang anda pilih? Oreo atau Rodeo
Apakah anda memilih produk karena kemasan yang menarik?
Apakah anda memilih produk karena harga yang murah?
Apakah ukuran produk menjadi salah satu alasan memilih produk?
Apakah anda mengutamakan rasa?
Bagaimana produk yang anda pilih sedang habis di market apakah akan memilih produk sejenis lainnya?
Apakah Anda memahami perbedaan produk yang dipilih?
1
Bagas, 14th
Oreo dan Rodeo
X
X
X
ü   
ü   
ü   
2
Wicak, 11th
Rodeo
X
ü   
ü   
X
X
ü   
3
Mutiara, 20th
Oreo
X
X
X
ü   
X
ü   
4
Kautsar 55th
Oreo dan Rodeo
X
X
X
X
ü   
x
5
Manda, 20th
Oreo
ü   
X
X
ü   
ü   
ü   
6
Inta, 20th
Oreo
ü   
X
X
ü   
X
ü   
7
Citra, 19th
Oreo dan Rodeo
X
X
ü   
X
ü   
ü   
8
Amel, 15th
Rodeo
X
ü   
X
X
ü   
ü   
9
Yanto, 45th
Oreo
X
X
X
X
ü   
x
10
Resya, 20th
Oreo
X
X
ü   
ü   
X
ü   
11
Bagus, 25th
Oreo
X
X
X
ü   
ü   
ü   
12
Wika 21th
Oreo
ü   
X
X
ü   
ü   
ü   
13
Daniel 23th
Oreo
ü   
X
X
ü   
ü   
ü   
14
Agung, 22th
Rodeo
X
X
ü   
X
ü   
ü   
15
Rizka, 21th
Oreo
X
X
X
ü   
ü   
ü   
16
Catur, 22th
Oreo
X
X
ü   
ü   
ü   
ü   
17
Farhan, 20th
Oreo dan Rodeo
X
X
X
X
ü   
X
18
Lukman, 21th
Oreo
X
X
ü   
ü   
ü   
X
19
Dipta, 22th
Oreo
X
X
X
X
ü   
X
20
Zasky, 20th
Rodeo
X
ü   
ü   
ü   
ü   
ü   


Total
Oreo : 12 orang = 60%
Iya : 4 orang = 20%
Iya : 4 orang = 20%
Iya : 7 orang = 35%
Iya : 12 orang = 60%
Iya : 16 orang = 80%
Iya : 15 orang = 75%
Rodeo : 4 orang = 20%
Tidak : 16 orang = 80%
Tidak : 16 orang= 80%
Tidak : 13 orang = 65%
Tidak : 8 orang = 4%
Tidak : 4 orang = 20%
Tidak : 5 orang = 25%
Keduanya : 4 orang = 20%






 ket :
ü   : iya
x : tidak

Beberapa jawaban yang kami simpulkan.
a.       Bagas, 14 tahun, seorang pelajar SMP, mengatakan bahwa :
Bagas memilih Oreo lah yang lebih digemari dalam melengkapi hidangan susu di setiap pagi dan di saat santai, rasa coklat oreo lebih terasa dibandingkan rodeo. Meski ada masanya harus membeli produk sejenisnya. Masalah kemasan, Bagas tidak terlalu memfokuskannya, karena kemasan hanyalah pelengkap daya tarik  konsumen dan tidak akan dibutuhkan ketika isinya habis. Kendala yang sangat dirasa adalah, ketika membeli oreo dengan uang saku sendiri, karena harga oreo untuk kalangan pelajar SMP cukup terbilang tinggi, yaitu Rp 7.000,- jadi tidak menutup kemungkinan untuk membeli rodeo ketika uang saku mulai menipis.

b.      Mutiara, 20 tahun, seorang mahasiswi di universitas Jakarta, mengatakan bahwa :
Sudah tidak bisa tergantikan produk oreo untuk dinikmati, biscuit yang renyah rasa krimnya pun belum ada yang menandingi. Memang kalau dilihat dari faktor harga, selisih oreo jauh lebih mahal Rp. 3000,- dibandingkan rodeo. Tapi tidak masalah, yang penting rasa oreo belum ada yang bisa mengalahkan.

c.       Wicak, 11tahun, pelajar SD swasta di Rawalumbu Bekasi, mengatakan bahwa :
Lebih memilih rodeo sebagai teman bersantainya, meskipun tidak memiliki keharusan menyediakan biscuit coklat, namun Wicak melihat Rodeo memiliki ukuran yang lebih besar dan lebih murah dibandingkan Oreo, jadi porsi makan Rodeo lebih banyak dan harga yang murah.

d.      Bapak Kautsar, 55 tahun, pensiunan dari salah satu perusahaan BUMN
Beliau tidak pernah memperhatikan bagaimana Oreo dan Rodeo, dilihat dari kemasan tidak ada beda, keduanya berwarna biru dan memiliki biscuit hitam dengan krim putih, pembelian produk tersebut hanya membelikan cucu nya saja yang memang gemar biscuit hitam seperti ini, namun ternyata Bapak Kautsar tidak sama sekali mencicipinya. Jadi  mengenai rasa dan harga beliau tidak sama sekali mengetahuinya, Cuma memperhatikan harga yang sering berubah “saya kira produknya sama, ternyata beda toh, pantesan harganya berubah-berubah” tukasnya.
e.       Resya, 20 tahun, assisten LepMA-LPA Universitas Gunadarma
Memilih produk oreo, karena rasa oreo lebih manis dibandingkan produk lainnya, biscuit hitamnya lebih crispy dan krim putihnya lebih tebal. Resya berpendapat masalah harga seimbang dengan kualitas yang disajikan, jadi tidak ada masalah antara harga dan rasa.

Kesimpulan dari 20 responden yang sudah dihitung dalam persenan dan grafik, dikatakan bahwa 60% dari hasil penelitian memilih oreo, 20% memilih rodeo dan 20% memilih keduanya. Faktor penentuan pilihan adalah karena rasa biscuit hitam dan manisnya krim putih, 80% responden tidak memikirkan harga karena rasa memang sebanding dengan harga yang ditawarkan. 20% responden yang memilih rodeo karena ketidaktahuan mengenai perbedaan kedua produk tersebut, jadi bagi mereka memilih rodeo pun tidak akan merugi.

GAMBARAN MENGENAI PRODUK SEJENIS