Senin, 10 Juni 2013

Ravin




 Ravin
by : anisa maryati
10210874

Bab.1

“Ka Vani….ada mas Damar tuk diluar”
“Suruh masuk de’sebentar lagi mendidih”
            Aku segera berlari menemui mas Damar. Mas Damar adalah teman kakak ku, kak Vani, aku bsendiri bernama Aliya Angelica, tapi biasa dipanggil Lia. Sewaktu kecil keluarga kami mengalami Broken home dan aku memutuskan untuk tinggal bersama kakak dan nenek. Lima tahun silam nenek meninggalkan kami untuk selamanya.
“Mas Damar mana de’”
Aku hanya singkat menjawab “diruang tamu”. Beberapa menit berlalu, kak vani kembali ke dapur melanjutkan masakannnya.
“De’hari Sabtu, teman-teman mas Damar mau ke rumah”
“Ngapain kak”
“Kita mau ngadain reunian SMP”
            Aku hanya menganggukan kepala dan hanya menjawab “Iya kak”.
            Malam Minggu pun tiba, Kak Vani dan teman-temannya sedang asyik ngobrol di teras rumah. Aku teringat pada nenek yang selalu mengajarkan kami bagaimana cara sopan santun terhadap tamu. Bergegas aku ke dapur membuat minuman dan menyiapkan makanan yang telah ka Vani buat, ka Vani memang pandai sekali membuat kue dan rasanya pun enak. Aku pun segera mengantarkannya ke depan.
“Ka’ini makanannya”
“Makasih ya de”
            Tanpa sengaja aku melihat seseorang yang belum pernah aku kenal sebelumnya. Sosok seorang pria berkulit putih, hidung mancung dengan kacamata yang menempel dihidungnya dan mata yang terlihat sedikit merapat. Aku semakin penasaran dan bertanya dalam hati “Siapakah Lelaki tampan itu ?”. Sepertinya kak Vani tidak pernah memiliki teman yang seperti dia.
            Beberapa jam kemudian, satu per satu teman kak Vani menghilang. Aku segera merapikan gelas-gelas dan tak sabar ingin mengulas tentang pria tampan tadi.
“Kak, aku boleh Tanya gak ?”
“Tanya apa de’?”
“Cowok yang duduk sebelah mas Damar siapa sih ? kayaknya aku baru ngeliat”
“Sebelah mas Damar ? Kak Ryan ?”
“Bukan, kalau kak Ryan aku udah tau gak penting buat ditanya, yang itu loh kak”
“Oooh yang pake kemeja coklat susu ya ?”
“Iya bener, siapa sih kak ?”
“Emang kenapa sayang ? Kayaknya penasaran gitu ?”
“Kak serius nih siapa ?”
“Namanya kak Ravin, temannya mas Damar,tetangga baru RT.04 !”
“Mas Damar dong, jauh gak dari rumah mas Damar ?”
“Duh tau deh yang udah gede’ ! Rumahnya dibelakang rumah kita, sebelahan sama mas Damar”
“Ah yang bener kak ? Deket dong ?”
“Yaudah sana cuci gelas-gelasnya.”

Bab.2

            Keesokan harinya, tepat jam sepuluh, bel rumah terdengar nyaring berdering. Aku segera berlari dan membuka pintu. Aku melihat sosok seorang pangeran tampan berdiri di depan pinti ku, Astagaaa ……
“Lia, ngelamun aja. Kak vani mana ?”
“Hah ? kak Vani, itu..itu..ke..lagi pergi.”
“Kamu kenapa sih, kayaknya grogi ngeliat mas Damar, bikin minum sana”
            Aku dan mas Damar sudah seperti kakak beradik. Ya sama seperti aku dan kak Vani. Karena mas Damar teman kak Vani dari SD.
“Mas, sini deh” Aku menarik tangan mas Damar ke dapur.
“Kenapa sih ? kamu aneh deh.”
“Itu temen mas Damar ya ?”
“Ehm..mas Damar tau, dia lagi jomblo tuh !”
“Hah, yakin kak ?”
“Dasar anak kecil” Tangan mas Damar meraih kepalaku, kata orang pertanda kasih sayang.
“Enak aja aku anak kecil, umur aku kan udah 16 tahun, bentar lagi juga 17 tahun”
“Iya sayang…tumben biasanya kamu cuek ngeliat orang, ngomong sama mas Damar aja jarang apalagi sama kakak kamu. Kok ini ? waaaah ada yang ane nih !”
“Mas Damar ngomong apaan sih ? Mas..Mas Damar kan udah kayak kakak aku, mas Damar mau bantuin aku kan ?”
“Bantuin apaan adikku ?”
“Kenalin aku sama kak Ravin dong”
            Secara spontan mas Damar berteriak “Raaviiiiiiiiiiiin” Aku segera membungkam mulut mas Damar. Mas Damar gak bisa diajak kompromi tapi selain mas Damar siapa lagi yang bisa bantuin aku. Sekejap mas Damar meningglkan aku dan aku hanya mengintip dari balik tembok, pembatas ruang keluarga dan dapur. Tiba-tiba ….
“Liaaaaaaa, sini deh !”
Aku segera berlari menghampiri mas Damar dan membawa dua gelas berisi sirup berwarna orange.
“Kenapa kak ?”
“Katanya mau kenalan sama kak Ravin, sini lah”
            Dalam hati aku menahan kesal dan rasa malu. Mas Damar ceplas-ceplos. Gerak-gerik ku hancur gak karuan.
“Hye…ade’a Vani ya nama kamu siapa ?”
“Lia kak, temenya mas Damar ya ?”
Kami pun berjabat tangan kak Ravin tersenyum ramah dan menatap aku dalam-dalam, tetapi mas Damar kembali mengganggu perkenalan kami “Yailah, sok malu-malu udah langsung aja” Sambil menunggu kedatangan Kak Vani, kami berbincang-bincang dan bercerita tentang pengalaman masing-masing. Bercerita hobby, ya Tuhan….ternyata hobby ku dengan kak Ravin sama. Kami suka menulis kata-kata sandi Cina. Walaupun aku belum sepenuhnya bisa lancar menulis dan memahami sandi Cina. Tapi kak Ravin jago banget. Selain itu, kak Ravin jago banget main alat musik apalagi gitar. Aku segera mengambil gitar dan kak Ravin mencoba memainkannya. Astaga….lantunan musik dan suara khasnya selalu terngiang di telinga aku. Oya satu lagi, lagu faforit kami sama yaitu ‘The Rain-Tolong aku’ walaupun lagu lama tapi lagu itu mempunyai arti yang sangat penting dan lirik lagunya sangat menyentuh hati, yaitu ‘Tak pernah bisa melupakan seseorang yang pernah singgah di hatinya’. “Ya Tuhan….kenapa banyak sekali persamaan antara kami ?”
“Assalamualaikum…..”
            Tersentak aku kaget dan segera berdiri membukakan pintu. Yah kak Vani udah dateng. Berarti waktu aku tersita untuk bersama kak Ravin.
“Eh..ada tamu”
“Kita udah nuggu lama tau Van. Loe kemana aja sih ?”
“Sorry ya, tadi gue ke makam Grandma dulu”
“Yaudah Damar, lagsung aja”
“Ravin sama Lia bisa keluar dulu kan ?”
            Aku segera pergi dari persinggahan ku sebelumnya, kak Ravin pun mengikuti jejak ku. Kami ketaman belakang sambil bernyanyi dengan gitar sebagai pengiringnya. Tak hanya itu, kak Ravin juga mengajari aku tentang sandi Cina. Perasaan ku saat berada di dekat kak Ravin, nyaman sekali. Aku juga ngerasa ada sesuatu yang berbeda pada kak Ravin. Dua puluh menit tak terasa bersama ka Ravin, Tiba-tiba ….
“Ravin, pulang yuk”
            Suara mas Damar lagi.. ahhgghh mas Damar mengganggu aku. Aku ngedumel dalam hati.

Bab.3

            Tak terasa 2 minggu sudah, aku mengenal kak Ravin, kami selalu bertukeran sandi-sandi Cina, kak Ravin membuat puisi, bercerita lewat kata sandi. Tanpa sepengetahuan kak Vani dan mas Damar, aku memberanikan diri menulis sandi Cina untuk kak Ravin, yang isinya :

“Dear kak Ravi
 Maaf  yah kak sebelumnya, aku gak tau harus bilang apa dan mulai dari mana. Aku gak bisa bohongin peraaasan aku terus. Sebenernya aku malu  untuk ngomong gini. Terserah kakak mau menilai aku kayak gimana. Yang  jelas udah lama bangat aku memendam perasaan ini. Semenjak pertemuan kita yang kedua. Tepatnya aku juga lupa kapan, aku semakin suka sama kakak sewaktu aku tau begitu banyak persamaan di hati kita. Maaf ya kak aku terlalu berlebihan, tapi ini perasaan yang jujur dari hari aku. Memang terlalu cepat dan gak pantas aku ngmong begini ke kakak. Tapi… Plist ya kak jawab surat aku ini Satu lagi, aku mohon mas Damar dan kak Vani jangan sampai tau semua ini. Thanks before.”

                                                                         LIA

            Setelah surat ini nyampai ditangan kak Ravin, kak Ravin langsung kerumah dan menemui ku secara langsung.
“Lia maksud surat kamu apa ?”
“Maaf kak, aku terlalu lancang untuk ngomong semua ini. Tapi aku juga gak bisa terus mendam perasaan aku ini.”
Ka Ravin hanya terdiam dan tatapan matanya seperti orang kebingungan.
“Kak, kenapa ? aku salah ?”
“Mau kamu apa ?”
“Pasti kakak tau maksud aku ngomong gini”
“Tapii kan Li…kita baru kenal, emang kamu udah bisa mengenal sifat-sifat aku ?”
“Semua itu kan bisa kita pelajari disaat kita udah saling miliki, aku gak maksa kakak harus menjawab iya. Yang penting kakak harus tau tentang perasaan aku ini”
“Aku..aku..takut aja, kamu kecewa sama sifat aku, aku gak bisa jawab ini sekarang Li”
“Yaudah gak apa-apa, aku tunggu jawaban kakak”
“Kasih aku waktu 3 hari ya Li”
“3 hari ? yaudah gak apa-apa aku tunggu. Tapi aku mau jawaban kakak gak bohong”
“Makasih yah Li, kakak pulang dulu ya”
            Tiga hari berlalu begitu dan inilah hari yang paling mendebarkan. Karena hari inilah kak Ravin akan menjawab semuanya. Kak Ravin berjanji akan menjemput aku disekolah. Tak sabar aku menunggu jam 2 siang, karena aku memang pulangnya jam segitu.
            Jam 2 siang tiba. Aku menunggu di pos satpam bersama ‘Babe’ sang penjaga sekolah. Sepuluh menit berlalu, kak Ravin belum datang juga. Dua puluh menit aku menunggu bersama ‘Babe’ dan dua puluh menit lewat beberapa detik, kak Ravin datang menemui aku.
“Liiaaaaa….maaf ya nunggu lama” aku hanya tersenyum
“Kita ke rumah makan belakang yuk…”
            Aku tak berkata apa-apa, yang kurasakan saat ini adalah perasaan yang tak menentu, deg-degan pusing tujuh keliling.
“Lia…aku mau ngomong tentang perjanjian kita”
“Aku gak butuh basa-basi kak”
“Kakak berfikir….(Dua menit terdiam) kita jalanin aja apa yang terjadi”
“Maksud kakak ?”
“Aku akan berusaha mencoba menyayangi kamu”
“Kakak serius ? aku gak mau kakak mbohongin aku”
“Bohongin gimana ? Aku serius !”
“Makasih ya kak, atas jawabannya”

            Hari ini aku bahagia, seperti bidadari yang paling beruntung di semua jagad raya ini. Walaupun aku tau, kak Ravin belum bisa sepenuhnya sayang sama aku. Tapi aku mencoba bersabar dan aku yakin, semuanya pasti akan berubah. Aku berharap, kak Ravin cepat mempunyai rasa sayang itu untuk aku. Tak ada seorang pun yang tau tentang hari bersejarah ini, kecuali teman-teman ku. Karena aku gak mau sampai kak Vani tau, aku dan kak Ravin kan baru 2 minggu kenal.
Sebulan berlalu tenang, burung-burung kecil selalu menyambut pagi ku dengan ramah. Matahari selalu tersenyum untuk hari indahku Aku selalu merasakan damainya hidup didunia ini. Aku tak ingin semuanya berlalu begitu cepat. Sejauh ini kak Vani belum mengetahuinya, aku juga tak bisa terus-terusan backsreet dari kak Vani.
Seperti biasa, kak Vani yang selalu menyiapkan sarapan untukku.
“Pagi kak”
“Eh…tumben adik kakak udah bangun”
“Kak, aku mau ngomong, sekarang bisa”
“Ngomong apa de’ ”
“Emm…sebenernya akuuu….udah jadian sama kak Ravin”
Aku memberanikan diri untuk berterus terang pada kak Vani. Tapi, kak Vani mendengar berita ini biasa saja. Malah saat ku mulai bicara, wajah kak Vani tanpa ekspresi menjawabnya. Menjawabnya pun hanya sekedar tersenyum, aneh, biasanya kak Vani paling semangat mendengar cerita ku, ada apa ini ?
Setelah sarapan, aku mandi dan bersiap untuk pergi ke sekolah. Gak biasanya mas Damar mengantarkan aku. Biasanya pangeran hatiku yang selalu mengantar sambil pergi ke kampusnya. Mas Damar sih memberi alasan yang cukup logis. Kak Ravin ternyata sedang sakit. Ooh Tuhan, pangeran ku terbaring sakit, aku harus menjenguknya nanti pulang sekolah.
“Lii…dah siap belum ?”
“Ayo kita berangkat mas !”
            Ditengah perjalanan, tak biasanya mas Damar yang begitu bawel dan ceplas-ceplos, tapi kali ini mas Damar selalu diam dan wajahnya kelihatan letih, seperti banyak masalah. Wajah kak Vani pun begitu, apa karena masalah kampusnya, memang kak Vani sedang sibuk mengurus skripsi, mas Damar dan kak Ravin pun begitu. Tiap kali aku bertanya, mereka hanya menjawab “ gak ada apa-apa kok” jawaban yang cukup singkat. Dan anehnya lagi, saat aku bertanya tentang kak Ravin, mas Damar hanya menggelengkan kepala. Masa iya mas Damar gak tau. Sebenarnya ada masalah apa sih ? atau penyakit ka Ravin cukup serius ?”

            Dua puluh menit, akhirnya aku sampai di sekolah.
“Makasih ya mas !” Lagi-lagi mas Damar bersikap aneh, dia hanya tersenyum paksa. Raut wajahnya begitu mencekam. Ah bukan jadi pikiran, yang aku pikirkan hanyalah keluarga, pelajaran dan pangeran ku ‘Kak Ravin’
            Tak terasa, pukul 2 siang pun tiba, saatnya aku kembali kerumah. Seperti biasa, aku pulang dengan angkutan umum. Dan dirumah sudah tersedia makanan yang sangat special. Ayam bakar buatan kakak ku ‘ tapi siapa yang menyiapkan ini semua ?’
“Haii...bidadari kecil ku” Suara lembut terdengar tak jauh dari telinga ku.
“Haah ? kak Vani, mas Damar, kak Ravin. Kalian kok” Aku menggantungkan kalimat ku
“Iya sayang, hari ini, kami gak kuliah. Kami ingin bersama kamu”
“Tumben, sebenernya ada apa sih ini ? kok aneh ?”
“Gak ada apa-apa kok sayang, kita mau deket kamu emang gak boleh ?” mas Damar kembali bicara
“Looh ! katanya kak Ravin lagi sakit, udah sehat kak ?”
“Cuma demam aja, gak kenapa-kenapa kok !”
            Kami bercanda ria, tertawa penuh riang, walaupun begitu, tapi aku aneh pada semua wajah dihadapan ku. mereka seperti penuh masalah, apalagi kak Vani, wajah kak Vani seperti tampang merasa bersalah. Aku semakin heran.
“Kak, kalian kenapa sih ? kayak banyak masalah ?”
“Gak ada apa-apa kok adik ku sayang” Kak Vani menjawab singkat


BAB.4

            Matahari sudah mulai sembunyi, senja datang beriring, mas Damar dan kak Ravin berpamit pulang. Aku mendengar mas Damar berkata “Jangan bilang-bilang Lia ya Van” tak hanya itu, aku mendengar kak Ravin berkata “Maaf ya Vani, tapi ini perasaan aku semenjak kita ketemu” Sudah ku duga, mereka menyembunyikan sesuatu. Mereka tak mau jujur pada ku. Aku mulai memasang wajah jutek.
“Kak ! aku mau nanya, kakak jawab yang jujur”
“Apa sayang ?”
“Kakak nyembunyiin sesuatu kan, kakak punya rahasia kan, aku denger semua yang dibicarain mas Damar tadi. Ada apa sih kak ?”
“Gak ada apa-apa kok Lia, kamu salah denger kali”
“Gak mungkin aku salah denger, terus apa maksud kak Ravin ngomong begitu tadi ?”
“Ngomong apa ?”
“Kakak gak usah pura-pura gak tau deh, aku denger semuanya”
“Kamu ngomong apa sih sayang ?”
“Ooh aku tau, kak Ravin suka sama kakak ya ? kakak juga suka sama kak Ravin kan ? Kakak jahat, kenapa kakak gak ngijinin aku buat hidup bahagia ?”
“Bukan gitu Lia ? Iya kak Ravin suka sama kakak, tapi dia bilang dia juga sayang sama kamu. Bener de’ kakak gak punya perasaan apa-apa ke kak Ravin”
“Kakak bohong ! udah deh jujur aja, sebenernya kak juga suka sama kak Ravin kan ? Cuma mungkin kakak gak enak sama aku”
“Enggak Lia, bener kakak gak suka sama kak Ravin, kak Ravin kan punya kamu”
“Kalau kak Ravin bukan punya aku, pasti kakak akan suka sama dia kan ?”
Ka Vani hanya terdiam dan berusaha menghibur rasa kekecewaan aku.
 “Udah ah, aku capek. Ternyata emang bener kak Ravin gak pernah sayang sama aku”
            Aku berlari ke kamar, ku banting pintu kamar ku keras-keras. Tak terasa aku ketiduran, aku terbangun sudah ada kak Ravin, mas Damar da kak Vani di samping ku.
“Mau apa kalian ? Kak Ravin buat apa kakak kesini ? mau bertemu kak Vani ?”
“Lia, kakak kesini mau ngasih penjelasan ke kamu dan mau minta maaf”
“untuk apa ?? semuanya udah jelas kan ??”
“Jujur, emang dulu kakak suka sama sama Vani, tapi itu dulu Lii, sekarang kakak udah punya kamu. Kakak gak mungkin ngecewain kamu”
“Aku tau, dari dulu kakak emang gak bisa sayang sama aku kan ? kak Ravin emang gak bisa ngilangin perasaan ke kak Vani, iya kan ?”
“Gak Lia..aku gak begitu, dulu emang aku susah buat ngilangin perasaan ke ka Vani, tapi sekarang, aku udah gak ada rasa apa-apa ke kak Vani dan sekarang aku Cuma sayang sama kamu”
“Ah gombal, kakak jangan Cuma ngobral omongan, aku gak bisa percaya, terserah kak Ravin mau ngomong apa, aku tetep gak percaya, sekarang kalian keluar dari kamar aku, keluar !!!”
            Sambil berjalan keluar kak Vani berkata “ Terserah kamu de’ percaya atau enggak, kakak gak mau penyesalan kamu datang belakangan. Kak Ravin mau pergi”
“Aku gak percaya omongan kalian, kak Ravin mau pergi, ya terserah,  itu kan hak dia, seharusnya kak Ravin bilangnya ke ka Vani, bukan ke aku. Ka Vani kan berhak atas kak Ravin” Aku menjawab ketus.

            Semua orang sudah keluar dari kamar ku. tak ada satu pun suara diluar sana. Tunggu aku jadi berfikir apa yang dikatakan kak Vani tadi ‘Kak Ravin ingin pergi ?’ kemana ?. apa itu cuma akal-akalan kak Ravin doang, biar aku bisa memaafkan dia ? ah aku semakin benci sama kak Ravin dan kakak ku sendiri. Kenapa mas Damar gak cerita sama aku ? mas Damar musuh dibalik selimut. Aku benci semuanya, terutama kak Ravin dan kak Vani. Semua egois !
            Senja berganti indah, mengikuti hembusan angin. Bulan telah berganti, aku tidak melihat kehadiran ka Ravin dan cerita ka Vani tentangnya.
“kak, Ravin beneran pergi ya ??”
“Iya Lii, dia ditugaskan di Yogya,,oh….ya surat-surat dari kak Ravin kakak taruh di kotak ungu”
Dengan singkat aku hanya menjawab “Bodo”
“Kakak gak mau penyesalan kamu datang terakhir”
“Emang Lia pikirin” Aku pergi meninggalkan kak Vani, yang sedang sibuk mengerjakan tugasnya.
Lima bulan berlalu suram ternyata kak Ravin benar-benar meninggalkan aku, mungkin untuk selamanya dan gak akan kembali,gak mungkin kan ka Ravin kembali hanya untuk aku.
Lima bulan berlalu tenang, ka Ravin menghilang tanpa jejak Mengirim surat pun tidak, memang semenjak kak Ravin pergi, aku membuang sim card nomer HP ku, dan menggantinya dengan yang baru. Seharusnya kak Ravin mencari tahu tentang kabar ku, kak Vani kan bisa dihubungin.berarti benar dugaan ku, kak Ravin ingin melupakan ku untuk selamanya.
Di sekolah teman-teman ku selalu bertanya tentang pangeran hatiku, oh tidak dia bukan pangeran ku, dia hanya manusia yang gak berarti apa-apa didunia ini. Dia hanya makhluk Tuhan yang merugikan. “Loe putus sama Ravin Lii?” itu pertanyaan teman-teman ku, aku bingung untuk menjawabnya, dibilang putus, enggak ! lebih tepatnya kak Ravin pergi meninggalkan aku, mungkin untuk selamanya.
Ya Tuhan, hampir setahun kak Ravin tidak menghubungi ku, satu kali pun. Aku menyesal udah kenal sama ka Ravin, aku memang manusia bodoh. Kak Ravin sudah bersikap sama aku seperti ini, kenapa aku masih mengingatnya, aku belum bisa untuk melupakannya. Semua benda pemberian ka Ravin masih tertata rapi di etalase koleksi ku. Foto-foto manis kenangan kita masih ada di meja belajar ku, aku tak kuasa untuk membuangnya, jujur aku masih sayang sama ka Ravin.
Setahun dua bulan telah berlalu, aku tetap saja, mengharapkan ka Ravin kembali. Sejenak ku tersadar, gak akan mungkin ka Ravin kembali hanya untuk aku. Percuma aku selalu menunggu yang tak pasti.
“Woooy, ngelamun aja !” mas Damar mengaggetkan ku, saat ku termenung di teras rumah.
“Kenapa mas, udah pulang dari Bandung ? sendirian aja ? tuh manusia mana ?”
“Siapa maksud kamu ?? Ravin ??”
“Siapa lagi kalau bukan Ravin, manusia yang paling merugikan cuma dia”
“Dia kan kerjanya di Yogya Lii, jauh sama mas Damar, sekarang ka Vani mana ??”
“Jadi toh dia pergi, pantes dia udah gak ngasih kabar lagi”
“Cukup !! kamu akan menyesal udah ngomong kayak gitu, kak Vani mana ? gak kerja kan ”
“Di dalem, masuk aja” aku menjawab cuek.
            Ka Vani dan mas Damar langsung memeluk aku penuh haru, air mata kak Vani membasahi seluruh tubuh ku.
“Ada apa kak ??”
“Kita berangkat ke Yogya sekarang juga, kakak udah nyiapin baju kamu”
“mas dammar udah beli tiket buat kita bertiga”
“Yogya ?? ngapain ?? mau nengokin Ravin ?? hahaha ” aku tertawa meledek
            Sepanjang perjalanan kak Vani dan mas Damar menangis, aku bingung sebenarnya apa yang terjadi ??
“kak, ada apa sih ?? Ravin mati ?? hahaha”
“Jaga mulut kamu Lii” mas Damar membentak ku tegas
“Lagian aneh-aneh aja, pada nangis begini”
            Satu jam sudah aku duduk di perut garuda. Mas damar segera memanggil taxi dan kami menuju satu tempat.
“Kak kita mau kemana ??”
“Kita ketempat ka Ravin, ka Ravin ingin bertemu kamu”
“Males banget gue, ketemu sama manusia gak berguna kayak dia”
            Gak sampai satu jam, kami tiba di rumah sakit, astaga…tempat apa ini ?? aku dirangkul erat oleh mas Damar menuju ruang UGD.
“Mas, kita mau kemana ??”
            Krreeeekkk…
Mas Damar membuka pintu kamar UGD dan…Ya Tuhan, tubuh ku seakan terbang, kak Ravin terbaring lemas, sprai yang berwarna putih suci kini telah dinodai warna merah, nafas kak Ravin hampir berhenti,berbisik lembut memanggil nama ku. Kak Vani tak kuasa menahan semuanya, ia terjatuh pingsan saat masuk ruang UGD. Ku hampiri kasur yang penuh darah itu, kantung mata ku yang terisa air, tumpah membasahi keramik yang tersusun rapih dan bersih, aku membaringkan kepalaku di dada kak Ravin.
“Lii,maafin kakak ya, ka Ravin sayang Lia”
“Kakak gak perlu minta maaf, aku yang banyak salah sama kakak,seharusnya aku yang minta maaf, aku selalu menghina kakak, dan sifat aku yang terlalu keras kepala, Lia sayang sama kak Ravin. Maafin Lia ya kak !!”
            Saat aku berbisik, ternyata kak Ravin sudah tidak mendengar ucapan ku, nafasnya sekejap terhenti.
“Ka Raviiiiiiinnnnnn jangan tinggalin Lia !!!”
Suster menutupi wajah kak Ravin dengan sehelai kain putih yang lembut. Mas Damar kembali menyeret ku lembut. Ditaruhnya kepala ku di sandaran kursi. Mas damar yang begitu sibuk mengurusi kain-kain untuk kak Ravin, karena memang di dunia ini hanya Mas Damar lah keluarga kak Ravin, Mas Damar teman dekat kak Ravin yang sudah seperti saudara. Beberapa jam kemudian, tubuh kak Ravin sudah dibungkus rapat dengan kain putihnya, sekejap kak Ravin tertimbun didalam tanah yang penuh semut dan cacing. Air mata kami jatuh dan terus jatuh tak tertahan. Sebuah penyesalan selalu hadir dalam tanya ku.
“Liii, kenapa selama ini surat kak Ravin gak pernah dibalas ?? nomer HP kamu kenapa ??”
“Apa mas ?? Surat ??”
“Iya Lii, surat-surat kak Ravin selalu kakak letakan di kotak yang ungu itu” Kak Vani angkat bicara.
“Kotak ?? kenapa kakak gak langsung kasih ke aku ??”
“Dulu kamu pernah bilang kan Lii ? apapun titipan buat kamu, kakak suruh menaruh di kotak itu, kita juga udah jarang ketemu kan Lii, kakak selalu pulang malam dan berangkat pagi.
“Kak Ravin selalu menunggu balasan dari kamu Lii, tapi gak ada satu pun kamu membalas suratnya”
“Memang mas, semenjak kak Ravin pergi aku membuang sim card ku, aku ingin melupakan kak Ravin, tapi kenapa kak Ravin gak menghubungi kak Vani ?”
“Masalah HP mungkin susah Lii, waktu itu kak Ravin bilang,sewaktu ia mendapat pelatihan, kak Ravin ditempatkan didaerah yang susah untuk mancari jaringan, yang bisa ia lakukan hanya mengirim surat”
“Jadi selama ini kak Ravin belum bisa melupakan aku ??”
            Ya Tuhan, rasa penyesalan selalu saja hadir untuk ku, kak Ravin yang selama ini aku anggap menyebalkan dan sering kali aku berfikir kak Ravin sudah melupakan aku untuk selamanya, tapi ternyata semua itu salah. Maafkan aku kak … aku yakin kakak pasti lebih tenang hidup disana. Lia juga sayang kak Ravin. Aku menuliskan kata-kata itu di semua pemberian kak Ravin.

Salam

 Salam
by : anisa maryati
10210874

Fani ... Anda dapat salam dari Marco.""Apa? Tentu bener ye?" Fani terkejut."Uh ... yakin itu Marco 3E anak, kan?" Fani masih belum yakin. "Mrco putih, Tini, ramah, Mohawk rambut seperti itu?""Ya, aku yakin benar-benar!" Potong Riri."Benar-benar tahu di mana dia nyalamin saya?""Saya mendengar sendiri, Apakah saya masuk ke lapangan basket ia bertemu gengnya. Jauhkan cerita bahwa Marco saya suka sama cwe.Dan fit belakang mereka, mendengar nama Anda disebut Fan-sebut.Nah jadi ... cerita"Fani hati bersorak. Bagaimana tidak? Dia disukai oleh Maco sejak kelas 1. Tapi siapa tahu hanya Riri.

                                                                  
***"Riri .. riri .." disebut suara. Riri jalan lagi ke kelas beralih ke sumber suara, dan itu Marco."Hei .. kau Riri, kan? Eh, bisa bicara sebentar?" Ditanya Marco."Bagaimana kalau kita mengobrol di kantin membiarkan lezat!"Riri mengangguk setuju."Mba .. pesen mie baksonya 2!" Teriak Marco.Jadi gini Rie ya saya mendengar Anda deket sama Fani? "Ditanya Marco." Sodara kan? ""Um .. Aku sudah sama tuh Fani persahabatan dari kecil.Ya ... sudah seperti saudara."Oo. Begitu begitu,""Eh, saya pikir Fani orang yang lucu juga. Udah pintar, cantik lagi!""Yaa ... jadi dehh," kata Ririe. "Di mana single lagi!""Benar-benar masih jomblo?" Tanyakan Marco bersemangat"Bener kok!" Ririe mulai mempromosikan temannya."Eh, R Fani bersama apapun kasih sayang?""Oh ... itu mah suka Fani ...."Mereka terus kantin tenang mengobrol sampai 16:00.

                                                                
***Malam itu, segera hubungi Fani Ririe"Fan hai ..?""... Tertentu tentang Marko Waahh khan?!" Fani tahu."Eh, gimana-gimana?""Waktuaku akan pulang, dia nyamperin aku di kantin. Jadi pada dasarnya dia ingin tahu informasi tentang Anda. Saya pikir cinta sekarang Anda tidak bertepuk tangan, deh. Dia bilang kamu pintar, ramah, lucu, karena aku begitu cantik lagi. ""Apa yang benar ...?!""Dia mengatakan di belakang sekolah ia ingin melihat.""Apa? Besok?""Ya, besok! Eh, ya sudah digunakan Fan. Aku ingin makan. Oh ya, Marco titp salam. Byeee ...."Fani segera menutup bahagia. "Aduhh ingin menjadi besok ..."
                                                                        
***Dan akhirnya Fani menunggu kali tiba. Sore itu, setelah bel istirahat tiba, Fani dan Riri bergegas ke kantin lagi, Marco adalah belum datang. Sepuluh menit ... lima belas menit ... dua puluh menit ... dan Marco akhirnya datang."Uh, yeah ... maaf aku datang terlambat. Anda lihat saya sudah ilmu perbaikan, sekali lagi maaf ya ..." kata Marco."Tidak masalah," kata Riri."Bye jalan ... mana Fani nya?" Tanyakan Marco melihat kearah Riri dan Fani ""Apa?" Fran tampak terkejut."Emangnya maksudkamu Fani yang mana?" Menjawab dengan cepat Riri"Ya ... itu loh Fani, Fania Eh, dia belum datang?.""Apa!" Teriak Riri."Woi ... apa yang kamu lakukan ini?" Marco kebingungan."Oh ... Anda berarti bahwa BIN anak Fania 3-D? Siapa rambut pirang?""Oh begitu keren ... tapi saya tidak tahu apakah nickname Nia," kata Marco."Jadi ini bukan Fani, Fani Indrawati tidak?""Oh ... tidak," jawab Marco sambil menggeleng. "Kan aku bilang Fani saudara lo!""Ya ... tapi kali ini Anda preman Fani. Pokoknya saudara memanggil saya Fania Nia, bukan Fani!" Kata Riri sambil emosi."O sih tentang hal itu ... jika aku tidak tahu!" Kata Marco santai."Riri ..." kata Fani tertahan."Woi, Ri ... Fanianya mana?!?" Menangis Marco

HARAPAN YANG SIRNA



HARAPAN YANG SIRNA
by : anisa maryati
10210874

”Edgar,Ruffan mana?” sekertaris kelas yang mungil dengan gaya rambut layernya telah mampu membuat pensil Edgar melontar entah kemana. Sudah seminggu ini, seisi kelas gempar dengan kepergian misterius Ruffan, kesiswaan dan guru BK setiap hari memanggil Vania, selaku sekertaris kelas.
“Edggarrrrrrrrr…..”hentakan Vania kembali memecah, membuat pria berkacamata menyodorkan kotak kecil bermata biru. ”Apa ini?” kerutan keningnya mulai terbentuk, dengan gaya cool yang sibuk dari tadi mengatur posisi kacamatanya melontarkan satu kata ”Baca” Vania mulai membuka…

Lembar pertama….

Ayahh.. Ruffan gak akan pernah lupa sama harapan Ayah dan Bunda.Ruffan yakin, di balik sifat keras ayah menyimpan sayang untuk Ruffan. Ruffan akan berusaha apapun kehendak ayah tapi, gak saat ini.
Senin 031007  

Lembar kedua…

            Bunda, tolong sadari ayah dari sifat kerasnya, bilang sama ayah permata biru ini, akan Ruffan jaga walaupun ayah gak pernah suka sama Ruffan.
Selasa 041007


“Neng!!!” Neva merebahkan telapak tangannya di pundak kiri gadis berambut layer.
            “Lo baca apa?” Neva menatap kaku wajah Vania,yang dari tadi memasang tampang aneh, ibarat orang kesasar yang bingung mencari jalan.
            “Ruffan!!”
            “Kemana Ruffan?”
            “Gue yakin dia lagi ada masalah” suara nyaring menjawab dari kejauhan, siapa lagi kalau bukan Edgar, chairmate Ruffan.
            “Kita harus nyari Nev!”
                     
                                                             0-----0-----0-----0
           
            Pagi ini sangat cerah, matahari menyapa ramah, kupu-kupu kecil membangkitkan semangat untuk memulai hari baru. Hari ini, seluruh siswa kelas 11 IPA akan study tour ke Boscha Bandung.Oh tidak. Kali ini kupu-kupu kecil tidak bisa membangkitkan semangat, Ruffan sesosok pria berbudi menghilangkan hari indahnya.
            Kekerabatan mereka pupus satu, sejauh ini Tuhan belum menunjukan jalan keberadaan Ruffan. Bunda manis, panggilan hangat ibunda Ruffan, yang kian hari kondisinya semakin melemah, memikirkan apa yang sudah terjadi.
            Sepanjang perjalanan suasana hening, Pedra yang pandai ngebanyol berubah kaku. Menghilangnya Ruffan telah membuat semua hening, tak lain Ibu Azaria sosok wanita lembut, dengan kain ala Arabian menutupi rambutnya, yang setiap saat menanyakan informasi tentang anak muridnya “Anugrah Ruffanizam Mulia” besok genap 3 bulan menghilang.
            “Kemana sih Ruffan?” Vania menyenderkan kepalanya di dataran jendela bus, sambil mulai merengut bayang hampa, memaksa mata menatap kotak bermata biru.
            “Itu Ruffan” suara Neva memberhentikan bus, membuat Ibu Azaria menghampiri pria yang terpojok di sudut kota “Ruffan”, pria itu membalik perlahan saling menatap kaku, tatapan mata terbelalak tajam merubah arti seakan syahdu. Berbinar pudar menatap obyek yang terlihat.

“Saya bukan Ruffan”berlari menutup wajahnya kilat.
“Ruffan berhenti,kita gak mau kehilangan kamu”Edgar sang chairmate dan rombongan lainnya ikut mengejar cepat.Tapi Tuhan berkata lain,beradius 2 KM,Edgar harus merelakan kaki kirinya,bus dari lawan arah menghantam tubuh Edgar,alhasil terpental jauh.
Mungkin ini salah Edgar,menyebrang tanpa perhitungan,demi menghampiri sahabatnya.Study tour dibatalkan,Edgar hanya terbaring lemah berbalut perban dengan layer kecil mendeteksi hidupnya.Tatapan mata Edgar kosong,nafasnya berirama mengikuti alat bantu.        

                                                      0-----0-----0-----0

“Maafkan Ruffan nak!” Antrian air mata bunda manis memaksa keluar.
“Gak papa Bun! Ini sudah perintahNYA” Edgar menjawab lemas.
Pagi ini adalah hari pertama Edgar berjalan dengan kaki barunya, setelah 10 hari mengkosongkan tatapannya,merangkai keikhlasan untuk beradaptasi menyesuaikan langkah.
“Kamu di mana sih nak ? Kamu telah merepotkan banyak orang” mata Bunda Manis makin menyempit,yang setiap hari hanya menumpahkan sederetan air mata. Membuat tangan kanan Neva yang berbalut bulat berdenting mendarat kearah lipatan mata Bunda manis. Beberapa pasang mata menatap kotak kecil kira-kira berukuran 30Ð¥50cm dengan gambar genik,yang telah lama menghilang.

                                                  0-----0-----0-----0

Dentingan waktu mengantarkan 5 bulan kepergian Ruffan. Bunda manis hanya meratapi kotak kecil dengan permata birunya. Ayah dan Bunda Ruffan menaruh ribuan harapan pada anaknya,di bekali dengan didikan positif dan permata biru yang kini menempel di buku harian Ruffan. Mungkin aneh, sesosok cowok yang seharusnya tegar dan bersikap acuh malah memiliki buku harian yang terkesan “Lenje”. Tapi permata biru itu,begitu berarti untuk Ruffan,permata biru memiliki makna yang indah karena Tuhan telah menitipkan Anugrahnya yaitu Ruffan.

Rabu, 200308.  .  .

Sore itu, puluhan pasang mata yang sedang berkumpul menatap tegang kearah ambang pintu rumah Ruffan. Ditatapnya berkali-kali pria berbudi dengan membawa map dan medali emasnya. Terengah Bunda manis berdiri dan tangan kanannya mendarat kasar menuju dataran pipi Ruffan.
”Untuk apa kamu kembali?” mencuap emosi bunda terlontar. Ruffan telah kembali,tapi sambutan kaku menyapanya.
“Lihat Ayah kamu disana nak,terbujur kaku mengarah kiblat”. Entah apa yang bisa Ruffan lakukan, halilintar menyapa hatinya,darah yang mengalir deras, sekejap terhenti, hanya tinggal bayang kaku menyambut dirinya, melangkah perlahan menghampiri sosok manusia tak berdaya, isak tangis hadir menemani.
“Kenapa Ayah pergi? Lihat apa yang Ruffan bawa Ayah!! Sertifikat kejuaraan dan medali impian Ayah Ruffan berhasil merebutnya”. Tetapi semua itu sirna, Ayah Ruffan tidak mampu melihat keberhasilan anaknya. Ruffan sengaja menghilang untuk merebut kedudukan selama ini Ayah impikan.   
           

Aku Ikhlas, Bunda !!



Aku Ikhlas, Bunda !!
by : anisa maryati
10210874
            “Gue yang menang!! Janji kalian harus dilunasi” cengir Zea menadah tangan ke wajah tiga sahabatnya, Mahar, Earl dan Syukur. Syukur lah yang selalu jadi bulan-bulan ‘pengejekan’, ntah di sekolah, tempat pengajian maupun organisasi lainnya. Alasan ejekan mereka sangat sederhana, Cuma sebuah nama bias jadi gempar. Katanya ‘Syukur’ adalah nama orang kolot yang kehidupannya masih menyatu dengan alam. Padahal dengan nama itu hidup akan lebih hokky (hanya pendapat Syukur).
            “Sabtu kita kumpul, sekalian ngeregangin otak”. Setiap hari, bahkan hitungan detik, hidup mereka dibaluri dengan rumus dan soal. Wajar sajalah, seorang pelajar yang berkewajiban ‘berpacaran’ dengan buk, apalagi dalam menghadapi UAN dan saringan masuk Perguruan Tinggi Negeri. Rasanya makan pun dilauki dengan soal.
            Satu langkah sudah berjalan, lulus dalam UAN, meski beberapa minggu lagi masih harus berhadapan dengan saringan masuk. Zea berhak mendapatkan keinginan yang selama ini belum terlaksana, menikmati keindahan binatang air. Semua adalah hasil dari taruhan bersama sahabat-sahabatnya. Siapa yang mendapat nilai tertinggi, boleh meminta apapun.


 

            “Bunda..Jordy, Syukur yang kasih makan yaa!!” memang terlalu bagus, nama ‘Jordy’ hanya untuk seekor kambing. Sudah biasa mereka memasuki rumah Zea. Rumah yang sangat sederhana, hanya gubuk dan bamboo reyot yang Nampak, namun terlihat megah. Karena ayah dan bunda telah mendidik anak semata wayangnya menjadi seorang harapan bangsa.
            Mahar dan Syukur juga tergolong setara dengan Zea. Sepulang sekola, mereka membantu kedua orang tuanya mencari penghidupan. Mahar yang hanya anak seorang penarik becak, ayah Syukur dan Zea hanyalah seorang kuli borongan. Berbeda dengan Earl, ayahnya sebagai pengusaha ternama dan ibunya selalu mondar-mandir keluar negeri, ntah apa yang dikerjakan. Tapi hidup mereka saling melengkapi. Hidup sederhana, tidak membuat harapan yang kian sederhana. Sejauh ini masih sungguh diherankan “Kenapa Earl mau berteman dengan kita? Seorang anak miskin, norak dan kampungan?
“Assalamualaikum” Zea menaruh bakul di tempat biasa, sambil menyerahkan uang hasil jualannya ke bunda. Terlihat Earl sedang menikmati pisang goring terhidang dimeja. Padahal teman yang lainnya asyik membantu bunda membersihkan pavilyun Jordy. Memang kambing istimewa, kandang pun disebut pavilyun.
            Sudah biasa pula Earl seperti itu, tidak mau menyentuh tanah, apalagi harus berkenalan dengan kotoran kambing. “iiggh!! Jijik!!” tegasnya. Maklum sajalah kehidupan hari-harinya lebih dominan dilayani. Earl memang anak orang kaya ternama yang terhormat dan selalu dilayani, tetapi tidak dirumah Zea, ia harus mau mencuci piring sendiri sehabis makan dan itu sebuah penghargaan terbesar baginya.
            “Hey cengcorang” sapa Zea menuju kandang Jordy. “Gue mandi dulu” sapaan Zea serasa angin, tak ada seorang pun yang menjawab. Jordy lebih disayangkan disbanding temannya sendiri.
            “Kongkow yuk!!” ajak Earl selagi Zea mengacak ngacak rambunya dengan handuk dan Mahar hanya mengerutkan dahinya membentuk suatu pusaran.
            “dimana??” sambung Syukur agak paham. Ya memang Syukur masih terbilang ‘gaul’ kata-kata keren anak sebayanya, sudah hafal diluar kepala. Gak menutup kemungkinan nama jadul, pikiran pun kuno.
            “C.I sama anak skate” nsemua terdiam “gue yang bayar” lanjut Earl dengan sombongnya. Syukur mengisyaratkan matanya kearah Zea bertumpu. Acuh memandangnya, handuk pun terjemur rapi di susunan tali halaman belakang. Semakin mengabaikan ajakan Earl, Zea ikut jongkok disebelah Mahar yang daritadi enggan meninggalkan Jordy.
            “Gimana?? Mau gak??” Syukur menegaskan dan Zea menjawab singkat “Gak” berbalas Earl “Norak”. Mata Zea spontan tajam menatap Earl “Lo aja yang pergi


 


Hari yang cerah membuka semangat baru. Seperti biasa, pagi-pagi sekali. Mungkin masih dikategorikan malam. Karena jam 02.00, semua orang masih terjaga dalam tidurnya. Tapi Zea, sudah semangat membungkus daging ayam berbalut ketan dengan daun pisang. Ribuan kali bunda melarangnya, tapi Zea selalu mengelak “biar cepet beli mobil” tukasnya renyah.
Setelah solat subuh, Zea bersiap dengan putih abu-abunya yang sebentar lagi harus terlepas. Standbye di sepeda mini dambaannya. Sebuah kendaraan yang setia menopang berat badab Zea dan bakul berisi kue. Sebelum berangkat sekolah, ia memutar arah menuju warung pojok jalan, menitipkan kue-kue buatan bersama bundanya. Melanjutkan goesan sepeda ke perempatan jalan, disitulah kedua sahabatnya menunggu.
Terkadang jika mood Earl ibarat Angel, Earl menjemput ketiga sahabatnya dengan jazz yang termodifikasi, tak adapun yang menolak “nyobain jadi orang kaya” sambar Syukur cuek.
“males gue, masih aja sekolah, padahal udah UAN, cabut yuk!!” sergah Earl sembari membanting tasnya kerebahan kursi. Terlihat Mahar ikut merampas tas dari pusaran awal, menuju arah kantin, tanpa merespon sekitar yang memanggilnya, disusul Earl dan Dante dengan pipi bergerak mengeluarkan balon. Tapi arah tujuan mereka berbeda. Earl dan Dante merayap gerbang sekolah belakang, sedangkan Mahar berlari kecil menuju kebun, tempat terindah para siswa. Tersandar dengan posisi satu kaki menempel di tembok, menghembuskan asap seraya pakarnya. Reflek tangan Syukur merampas paksa, batang putih yang ada digenggamannya. Tanpa hirau Mahar pergi menyusul gerakan Earl dan Dante. Tergopoh-gopoh Zea berlari meredam emosi Syukur, alhasil Syukur dapat tenang kembali duduk manis di bangku 12-A.1


 

“ Kenapa gak ikut tambahan seleksi??”
 Syukur dan Zea seakan mengintrogasi Mahar, bukan Earl. Sudah biasa kalau Earl membuat keonaran di sekolah, ruang BK menjadi salah satu persinggahannya. Tapi tidak untuk Mahjar, ini adalah perdananya dai melakukan aksi nekat seperti ini.
            Hanya berbalas senyum yang terlontar dari bibir Mahar. Diinformasikan MAhar termasuk cowok kalem, pendiam, dan sangat menghemat ucapan, sehinnga ia hanya mampu mengajarkan arti senyuman. Sangat bertolak belakang dengan Syukur, selalu saja mengobral kata demi kata. Suasana apapun bias cair dengannya. “Karakter kami memang berbeda”
            “Ze ulas pembahasan statistic dong, gue masih ragu”Sergah Syukur memohon. Diundanya belajar bersama, tapi Mahar? Kali ini ia menolakuntuk bergabung”sebenarnya apa sih yang terjadi? Bukankah cita-cita kami menduduki bangku PTN? Apa mungkin Mahar sudah jenuh belaja? Sepertinya itu bukan Mahar”
            Tepat jam tujuh malam, seperti biasa rumah Zea menjadi tempat persinggahan sahabat-sahabatnya. Earl hanya meraih waktu lima menit bersandar di jajaran bamboo. “pengen nongkrong” tukasnya sok gaul. Tidak dengan Syukur, dia sudah standbye di lantai beralas tikar beberapa buku terbuka. Hamper setengah jam menunggu Zea, yang ntah apa dilakukan dikamarnya. Tak sabar, Syukur mendibrak pintu Zea yang tidak terkunci.
            “Astaga…!!!! Zea…!!” terlihat sahabatnya terbaring dihamparan lantai beralas tikar.
            “Bundaaa…!!!” diangkat tubuh sahabatnya menuju kamar, ditemui bunda sedang mengayak tepung di dapur.
            “Zea pingsan Bunda…!!!” ntah apa yang dipegangnya terlempar begitu saja. Bahkan ayakan tepung, berhamburan mewarnai daun pisang di sekililingnya.
            Diusap kening anaknya, sambil terus memanggil nama “Zea!!”. Syukur hanya berdiri dingin disamping bunda, ntah apa yang harus dilakukan, menatap khawatir kearah rebahan sahabatnya.
            Sepuluh menit sudah, akhirnya Zea siuman, dipanggil nama sahabatnya “Mahar!!” hanya nama Mahar yang terlontar, bukankah seharusnya Syukur? Toh daritadi Syukur yang mengkhawatirkannya. “Kamu sudah sadar nak??” sambung bunda samar. Dengan terus memijit kaki kanan anak semata wayangnya.
            “Masuk angin kali bund!!” serga Syukur yakin, dibalas senyuman Zea mengisyaratkan “Zea baik-baik saja”

Alhamdulillah.’Zea Axela’ sebuah nama yang memiliki arti indah,berhasil mendapatkan kursi untuk melanjutkan studynya di Perguruan Negeri Jakarta.
“Zea Axela           SMA Harapan 1           Kesehatan Masyarakat,begitulah pengumuman yang tertera di layar online.”Tidak masalah ,tidak jadi Dokter ,yang penting masih bisa membantu  tentang kesehatan” ,Tukasnya bangga.
            Ketiga sahabatnya telah memiliki jalan masa depan masing-masing. Earl melanjutkan di London, Syukur juga berhasil menduduki bangku Perguruan Tinggi Negeri dengan jurusan Astronomi, hanya saja dia tidak di Jakarta, melainkan di kota kelahirannya “Yogyakarta”.
Kalau Mahar? Ntah kemana perginya, pertemuan terakhir dengan sahabatnya, setelah hari itu, hari perdananya cabut sekolah. Rumahnya pun sepi, bahkan tetangganya tidak ada yang tau.
“Mahar, kami merindukanmu”


 


            Dua semester sudah mereka jalani dan artinya satu tahun mereka telah terpisah. Hanya sebuah goresan tinta yang menjadi obat rindu mereka. Earl yang kabarnya berhasil meraih posisi 10 besar dan akan melanjutkan seleksi pertukaran mahasiswa di Kanada. Masalah prestasi bias di acungi jempol, tapi tobatlah sedikit, Earl “Hentikan mengoleksi pacar”.
“Selagi muda” balasnya ringan.
            Syukur tidak banyak berubah, gaya dan tingkah lakunya masih kental seperti dulu. Sapaannya renyah dan banyolannya unik masih dapat dirasakan, meski hanya melalui tarian tinta yang melekat di kertas. Minggu lalu, ia mengirimkan foto bersama gadia cantik disampingnya. “Pacarku ayu* toh??” Tukasnya (ayu : sebutan untuk wanita anggun dan cantik dalam bahasa Jawa)
            Kedua sahabanya sangat beruntung sepertinya. Prestasi yang kian membaik, pergaulan semakin luas bahkan jaringan komunikasi terus melesat, sehinnga usaha sampingan mereka lancer terkendali. Ya memang begitulah kehidupan anak kulia, harus mencari dana tambahan.
            “Berbeda denganku” Ratap Zea rintih. Ditatapnya kayu persegi, kira-kira berukuran 50x70cm, tetera gambar lucu bersama 3 sahabatnya. Dengan property alat-alat masak gosong, Jordy pun ikut bergaya. Air mata terus mengalir, sambil memegang kepalanya. Ntah penyakit apa yang sedanghadir di tubuh Zea, sehingga berkali-kali harus terbaring lemah berlapis selimut, daftar hadir di kampusnyasering sekali kosong, prestasinya pun kian menurun. Sungguh disayangkan, seorang gadis cantik berakhlak mulia mendapat nilai D, padahal dulu selalu berprestasi, berbagai olimpiade mampu dilahapnya. Mungkin sudah ratusan kali, bahkan ribuan kali, ayah dan bunda meminta maaf kepada Zea “tidak bisa membiayai ke Rumah Sakit” makan sehari-hari saja sudah bersyukur, apalagi sekarang status beasiswa Zea yang dibawanya sejak SMP telah dicabut, karena nilai-nilainya tidak layak untuk dibanggakan. “Zea berhenti kuliah sajalah” niatnya dalam hati.
                                                                                                
Ya!! Akhirnya niat itu terlaksana “berhenti kuliah” semakin hari tubuh Zea semakin mengerut, sehingga tidak mampu untuk berfikir secara dalam. Biaya untuk kuliah pun jadi beban tambahan ayah dan bunda. “lebih baik Zea bantu ibu jualan, cukup sampai semester 3 saja Zea jalani”
            Setiap minggu, kertas berbungkus amplop terus dating, bahakn Earl pernah mengirim gelang berlapis berlian, yang dibelinya sewaktu ia survei lokasi di Kanada dan Syukur selalu mengirim foto bersama gadis belia itu.
            Bulan semakin bertambah, bahkan sudah terbilang satu tahun Zea tidak pernah membalas surat sahabatnya. Syukur dan Earl bertanya dalam heningnya “Kemana Zea? Apakah ia sibuk dengan tugasnya sampai tak sempat menulis surat?” dalam surat terakhir, Earl berjanji akan terbang menuju Indonesia untuk memastikan apa yang terjadi pada Zea. “Setelah menerima IP ya Zee!!” itulah janjinya.
            Sebulan telah berlalu dan inilah waktu yang dinanti Earl, menginjak bumi tercinta untuk bertemu sahabanya. Hanya dalam hitungan jam, bandara Soekarno-Hatta berhasil di injaknya. Memanggil Taksi yang bersiap menuju kea rah rumah Zea. Dua jam perjalanan dan akhirnya sampai juga melihat sekeliling masih seperti dulu, gubuk sederhana nyris reot masih bertahan melindungi keluarga yang mempunyai satu harapan bangsa.


 


“Assalamualaikum..bunda, Jordy!!” seperti biasa yang dicari hanya bunda dan Jordy, padahal tujuan utamanya bertemu Zea?”
“Tanpa ada perintah “masuk” Earlpun sudah menginjak batas ruang tamu, sewaktu meniatkan langkah ke kandang Jordy, pusaran arah memutar 90°. Tampaklah gadis terbaring lemah di jajaran bamboo beralas tikar. “Zeaa??” Tatap Earl lemas. Sudah tidak bias dikategorikan cantik lagi, karena saat ini, badan yang dulu elok semampai, sekarang hanyalah tulang yang terbungkus kulit. Mahkota indanya kian gugur, bahkan sudah tidak dikenalinya.
“Zeaa!!” panggil Earl tidak yakin “Lo bukan Zea kan? Zea mana?” Tatap Earl menatap hanya sebuah gelang yang melingkar sedikit memberikan keyakinan untuk Earl. Tatapan Zea kosong, tidak mengenali, langkah Earl semakin dekat dan wanita paruh baya dating menghampirinya.
            “Itu Zea nak!!” suara bunda meyakinkan. Earl mengartikan pasrah. Sepertinya air mata bunda telah habis terbuang, bunda terlihat tegar dalam menceritakan semua yang terjadi. Terlebih penyakit Zea, bunda hanya mampu membawanya ke tabib, tak jauh dari rumahnya.
“Gak mungkin!! Ini bukan kena roh halus bund!! Ini penyakit serius!!” Tegas Earl “sekarang ke dokter”
“jangan nak!!” tolah bunda merintih “bunda tidak punyaa…!!” terpotong kalimat bunda yang tersambung Earl paksa. Diangkat tubuh sahabatnya menuju mobil taksi yang telah dipesan beberapa menit lalu. Zea hanya bias menatap kosong dan sesekali menyebut nama Mahar.
Tanpa berfikir panjang, moboil melaju kencang dan Earl mengambil seluler genggam dari kantong celananya, dengan cepat ia memesan tiket expres arah Yogya menuju Jakarta dikirim ke alamat Syukur dengan memo “cepat kerumah Zea!!”


                                                                                                                          
                                                                                                              
Dokter hanya menggeleng pasrah, tersenyum ikhlas untuk bunda. “Hasil rontgen saya serahkan besok!!” dokter sudan menolah rawat inap untuk Zea. Earl dapat mengartikan maksud yang tersirat dari mata dokter. Hanya saja tak sanggup menyampaikannya ke bunda.
“Kita pulang ya bund!!” ajak Earl tenang. Bunda hanya mengangguk bingung. “Zea sakit apa nak?” wajah Earl melontar kaku, hanya mampu menjawab “Serahkan semua pada Tuhan ya bund!!”
Lima jam penantian, akhirnya Syukur datang melihat langsung apa yang terjadi. Lemas tak dapat menatapnya, bahkan ia tidak yakin, bahwa itu “Zea!!” sahabatnya yang selalu menjadi penyemangat hidup.
“Mahar!!” ucap Zea lemah, sangat lemah. Dengan jurus andalannya “uang”. Earl memerintahkan 50 orang untuk mencari Mahar. “Berapapun yang kalian minta, akan saya turuti. Asal ketemu dalam waktu singkat” perintahnya sombong.
“Ternyata dalam waktu 3 jam, tanpa jasa pesuruh Mahar hadir di sela-sela penantian. “Kemana aja lo??” Emosi Syukur tak terkendali, menyisakan memar di pipi Mahar. Ditemukannya diary Zea, ditumpukan surat yang tidak sempat terbaca :
**Ayah-Bunda, makasih perjuangannya hanya untuk Zea, yang akhirnya Zea hanya merepotkan kalian. Zea sudah gak kuat bund, dengan kanker otak yang hadir sekarang. 3 semester ini, Zea sempat belajar tentang kanker dan maaf semua ini Zea rahasiakan, takut ayah-bunda sedih dan hanya menambah beban. Bundaa.. kelak Zea pergi suatu saat nanti, tolong sampein ke Earl, Syukur, Mahar. Bahwa Zea sayang sama mereka. Terlebih Mahar, makasih selalu ngajarinZea apa arti senyuman. Jagain Jordy ya bund, bilang juga kalau Zea ga akan ngelupain Jordi**
Menekukkan dua kaki Mahar disisi Zea, mengecup kening manis sahabatnya. “Maafin aku Zeaa!!”
Keempat tangan berkumpul di titian perut Zea. Air mata tak sanggup lagi untuk dibendung, tak ada tawa canda, celaan yang dirindukan.
Hening, suasana sunyi. Terlihat Zea mengambil nafas panjang. “Aku ikhlas, Bunda!!” yang kemudian menutup matanya dengan damai.

SELESAI